Kedai kopi adalah ruang sosialisasi paling cair dan ruang setara bagi semua kalangan. Mengenalkan generasi mendatang pada ruang ini menjadi satu awalan yang baik. Kami sungguh berbesar hati lantaran Dongeng Kopi menjadi salah satu pilihan diantara sekian tempat yang lain.
.
Beberapa menu untuk anak sedang kami persiapkan untuk hadir bulan ini. Kami juga merasa senang para kopilovers memiliki kesadaran yang tinggi atas inisiatif mengambil jarak saat merokok dengan memilih menyesapnya di ruang terbuka kami. Selain menjaga kesegaran aneka biji kopi yang tersaji, kawan-kawan turut serta dalam pencanangan kedai kopi ramah anak.
.
Kalau kepalan kepalan tangan ini disatukan, kita akan sanggup memukul dengan keras dan tepat sasaran pada segenap congkak lelah, bebal kognisi, pejalnya gagasan bersama tinju #KakiMerapi
Relasi itu dimulai dari kunjungan kali pertama, bicara-bicara, akrab, hangat, dekat jadi kerabat lalu dapat rabat, tandang berulang, ajak teman, rekomendasikan, demikian bergulir terus menerus. 
Potongan harga didapat sangat mudah. 
Pun demikian bila kopilovers ingin beroleh korting. Bila belum dekat boleh belanja tiap Jumat. Bila sudah dekat gunakan 'rabatdekat', bila masuk tingkat lanjut pakai saja 'rabatkerabat', bila langsai @kelasseduh 'rabatkolega' otomatis menyertai. 
Mulai April nanti kopilovers bisa dapati di @dongengkopi aneka privilege tersebut.
Genggaman erat dari kopilovers sekalian adalah sumber energi kami terus ada menemani segenap pengunjung mulai dari barat tugu pal putih, selatan jalan lingkar utara beberapa depa, palagan kranji, barat laut sambisari dan kini mengikuti para resi mendekati candrageni. Kami senang bisa terus memompa tuas demi secangkir espresso, mengenyahkan segala gundah. Setidaknya dalam sebulan ini, dimulai 14 Februari kemarin kami tak pernah kesepian bersama kunjungan teman-teman silih berganti, walau secara jarak lumayan membentang, waktunya padat berarak berkejaran, masih menyempatkan singgah di kaki merapi, ruang baru kami @dongengkopi. Semoga tempat ini terus menjadi biang sebagai ruang pertautan kawan, kelindan gagasan kaya akan aneka rasa dan aroma layaknya perasan rok, layaknya espresso rekso rumekso.
"Jika kita bertanya pada alam, siapa yang paling siap bertahan hidup: apakah mereka, yang selalu berperang satu dengan lainnya, ataukah mereka yang saling menolong?",
Maka terlihat langsung, bahwa binatang yang memiliki kebiasaan saling menolong, tak pelak adalah mereka yang paling siap dan paling mampu menyesuaikan diri dengan alam. Mereka berpeluang lebih besar  untuk hidup, sesuai tahapan masing-masing jenis, membawanya ke tingkatan tertinggi perkembangan intelegensi & organisasi tubuh. - Pjotr Kropotkin
Selain lewat sesi #MakeYourOwnCoffee pilihan kopi ramah saku kala tandang ke Kaki Merapi ada Sewu Suwi. Bila Sesi Seduh Suka Suka Bayar Suka Suka di MYOC itu berlangsung tiap hari pukul 08:00 sd 12:00, sewu suwi bisa didapati sepanjang hari sepanjang waktu tanpa batasan durasi. Sewu suwi adalah nama menu yang kami adopsi dari nama salah satu warkop di Sukolilo, Pati, Jawa Tengah yang sempat mincil singgahi pada medio 2006 -2007. Warung Kopi yang hanya menjual kopi saja tanpa tambahan apapun. Kopi tok. Warung kopi kecil, sederhana yang menjadi ruang kolektif, ruang berbincang dari semua kalangan. Hanya ada dua meja dan empat bangku panjang. Nama warung tersebut juga tersemat atas prakarsa dari para pelanggannya. Bukan dari sang pemilik. Nama yang menggambarkan kondisi riil dengan sewu bisa suwi. Dari seribu rupiah bisa berlama lama. Ngobrol ngalor ngidul bawa rokok Senior. Satu rokok legendaris yang selalu hadir di saku masyarakat sukolilo. Tagline rokok tersebut juga sangat menohok. Senior; Tak perlu gembar-gembor! Sama seperti warung sewu suwi. Tak perlu gembar gembor selalu ramai dan tak pernah sepi. Padahal jualannya hanya kopi. Kopinya juga tidak macam-macam. Hanya ada kopi robusta dari Jolong, kopi dari kebun yang sudah ada semenjak 1895.
Tukang bikin kopi yang baik, sejatinya tumbuh dengan sikap percaya diri sekaligus bersahaja. Seiring dengan proses mempelajari soal kopi, ia akan semakin menghargai hak berselera, sebab tidak akan menganggap selera yang berbeda dengan seleranya sebagai sesuatu yang salah atau sesat. Sikap yang demikian pemicu tumbuhnya pribadi dengan rasa rendah hati, tidak takabur.


Digubah dari - Menafsirkan pemikiran Tan Malaka dalam bermatematika. Iwan Pranoto