Mari kawan, kita jumpa dirinya di Dongengkopi &Indiebook malam Minggu ini. 2 April 2016 pukul 19.00 WIB. Kita dengar penuturannya tentang puisi-puisi dan proses kepenyairannya. Nanti kita paksa dia baca puisi dan menghibur malam minggu kita. Kamu cukup datang aja, nggak usah bayar, nanti juga ada hadiah-hadiah asyik dari kami. Siapkan tepuk tangan dan senyum manis saja buat penyair kita ini.

Sampai jumpa!

Jika kopilovers sudah sangat akrab dan familiar dengan istilah-istilah seperti: 'acidity', 'bitter', 'floral', 'caramel', 'over ekstrak', 'baked', 'body', dlsb, saat membicarakan soal kopi dan sekian turunannya, misal soal istilah dalam cita rasa, istilah dalam teknik seduh, istilah dalam sangrai, beberapa istilah tadi, mungkin sudah sering didengar dan diucapkan. Tetapi diantara kopilovers pasti pernah satu waktu sebagian dari kita juga masih asing dengan beberapa istilah yang dilontarkan seseorang yang membicarakan hal tersebut.
Beberapa istilah tersebut dalam padan kata bahasa Indonesia memang masih belum 'pas' untuk diterjemahkan. Mungkin dalam beberapa waktu ke depan kawan-kawan Indie Book Corner bisa membantu untuk 'mengalih bahasakan' beberapa istilah tersebut yang 'pas' dalam bahasa kita.

Akhir bulan ini, kami mencoba menambahkan beberapa istilah-istilah yang sering digunakan dalam 'dunia kopi' di tutup stoples Dongeng Kopi. Beberapa istilah tersebut semoga menjadi tambahan perbendaharaan kata kita tentang istilah di bidang kopi.

Cupping adalah sebuah kegiatan menyicip kopi yang sering dilakukan di Dongengkopi & Indiebook setiap minggu. Beberapa kopi yang datang dari para petani begitu selesai diroasting oleh bung Alang Bhinantaka biasanya langsung dicupping bersama-sama gerilyawan Dongeng Kopi dan kopilovers yang kebetulan bertandang saat kita menggelar sesi tersebut.
Pada kelas Barista yang biasa kami helat, cupping menjadi materi awal sebelum masuk ke dalam teknik brewing agar peserta belajar untuk mempersepsikan rasa, yang nantinya digunakan sebagai parameter keberhasilan seduhan yang diharapkan.
Mengapa cupping menjadi penting? karena cupping berfungsi untuk mengetahui perbedaan berbagai hasil seduhan kopi berdasarkan jenis, tingkat sangraian biji kopi, dan perbedaan profil rasa khas. Tujuan utama dari cupping adalah untuk mengetahui cacat produk atau profil rasa negatif dari kopi.
Dalam proses cupping, tidak semua dari kita mampu mendekripsikan rasa secara kompleks. Pengalaman atas mencicip dari berbagai rasa, serta kemampuan memanggil ingatan atas rasa yang ada di memori otak, memiliki peran vital dalam mendiskripsikan rasa yang terkandung dalam kopi yang 'dicupping'. Meminjam istilah dari Pak Yusianto Yusi, deskripsi itu akan muncul melalui 'perpustakaan rasa'yang dimiliki masing-masing orang.
Saat proses cupping, peran lidah sebagai indera penyecap, bertugas untuk mendeskripsikan rasa yang didapat.
Para peneliti melalui beberapa riset yang mendalam selama bertahun-tahun mengenai peta lidah dan persepsi rasa, berhasil menemukan sebuah bukti bahwa beberapa orang memiliki kepekaan yang kompleks dibandingkan dengan yang lainnya. Kepekaan ini berkaitan dengan sebaran papila yang berbeda.
Lalu apa itu papila? Papila adalah bagian permukaan yang kasar dari lidah berupa tonjolan-tonjolan. Ia mempunyai fungsi mutlak atas persepsi rasa.
Secara keseluruhan di lidah, terdapat tiga jenis papila yang ada struktur lidah diantaranya:
Papila filiformis (fili=benang); berbentuk seperti benang halus yang terletak di sisi lidah; Papila sirkumvalata (sirkum=bulat) yang terletak di belakang lidah; berbentuk bulat, tersusun seperti huruf V; serta papila fungiformis (fungi=jamur); berbentuk seperti jamur di pangkal ujung lidah.
Intensitas persepsi rasa yang dicecap oleh seseorang sangat tergantung pada kepadatan dan distribusi papila. Papila dari 'supertasters' biasanya erat terkonsentrasi dan terorganisir. Sebaliknya, 'nontasters' memiliki kepadatan pengecap rendah dan papila tidak terorganisir.
Di luar penelitian tersebut, sesungguhnya interaksi rasa yang intens juga mampu meningkatkan koleksi 'perpustakaan rasa'.
Oleh karenanya, penting untuk melatih lidah kita untuk menemukan peta dimana bagian sensitif dalam merasai rasa tertentu, dan mempelajari hubungan antara rangsangan yang berbeda.
Merujuk dari coffeeresearch.org. Memahami lidah kita relatif sederhana. Kita
disarankan memulainya dari 'merasai' gula, asam sitrat, garam, dan kina. Mulailah dengan daerah selain yang ditunjukkan pada peta lidah (gambar di bawah)
Misalnya, menentukan dimana bagian lidah kita dapat merasakan larutan gula selain ujung lidah. Ujung lidah akan menjadi wilayah yang paling sensitif, tapi kita mungkin dapat menemukan 'rasa' gula di tempat lain. Berikutnya, percobaan dengan berbagai konsentrasi dan membandingkan apa yang dirasa orang lain. Hal ini penting untuk memperoleh pemahaman tentang kemampuan persepsi kita akan 'rasa' yang kita tangkap.
Setelah gula, kemudian berturut-turut kita mencoba asam sitrat, garam, dan kina, kemudian mengkombinasikan secara bersama-sama antara gula dengan asam sitrat, asam sitrat dengan garam, garam dengan kina, dari satu elemen, hingga ke empat elemen dan memetakan dimana bagian lidah kita bisa merasakan secara terang akan rasa tersebut.

Latihan ini menjadi penting untuk merubah persepsi kita bahwa kemampuan merasakan secara komprehensif bukanlah melulu faktor genetik.


Siapa Juan Valdez? tidak lain dan tidak bukan adalah karakter fiksi yang muncul pertama kali di tahun 1958 via iklan yang ditujukan untuk Federasi Nasional Petani Kopi Kolombia. Juan Valdez merupakan karakter yang diciptakan sebagai ikon petani kopi Kolombia. Dirancang oleh Doyle Dane Bernbach, dengan tujuan melakukan 'diferensiasi' mengenai kopi Kolombia kualitas jempolan. Juan Valdez digambarkan selalu muncul dengan keledainya 'Conchita'.
Berbicara mengenai kopi kolombia yang memiliki ikon Juan Valdez, sepertinya kita juga bisa menjadikan banyak petani kopi kita sebagai ikon. Berbeda dengan Kolombia yang cenderung homogen, kalau di Indonesia barangkali ikonnya bisa macam-macam. Mulai dari Ucok, Yakleb, Sumijo, Tuhar, Wayan, Abidin, ataupun Tomuan, semua bisa menjadi kandidat ikon kopi Indonesia.
Sebagai negara yang sama-sama penghasil kopi, setidaknya kita bisa belajar dari negara Kolombia yang menempatkan posisi petani sebagai subyek penting industri kopi yang tercermin melalui ikon organisasi kopi mereka.  Bulan September tahun ini adalah peringatan 35 tahun hubungan diplomatik Indonesia‑Kolombia secara yang secara resmi dibuka pada 15 September 1980. Bulan September ini juga, Dongeng Kopi​ membagikan kopi Kolombia secara gratis kepada kopilovers yang bertandang ke Dongengkopi & Indiebook​ setelah memesan dua single origin nusantara.
Kami ingin mengajak kepada seluruh khalayak banyak untuk membandingkan kopi kolombia yang kebetulan juga kami dapat kiriman green bean dari seorang kolega yang kemarin sempat bertandang kesana, versus varian kopi nusantara yang begitu kaya.
Seduh Kopi!
Reguk Inspirasi...

Cerita secangkir kopi, tidak hanya berhenti di tangan barista. Ada pundak kokoh petani yang mengusung hasil petik merah di kebun, ada perawatan yang tak pernah putus di kebun pada lereng gunung, juga jemari lentik ibu-ibu yang melakukan sortasi sebelum kemudian masuk di proses pengolahan pasca panen. Ada jalur yang tidak pendek dari proses biji kopi yang mustinya dipahami oleh kita semua agar kita bisa menghargai secangkir kopi yang ada di meja kita.
Kualitas kopi, 60% ditentukan di kebun, 30% di proses roasting, dan hanya 10% ditentukan kemampuan barista.
Kisah ini tidak pendek untuk diceritakan dalam satu kali kala bertandang diDongeng Kopi. Sebagai kedai yang terintegrasi dari kebun hingga konsumen akhir, kami terus berbenah untuk bisa menyajikan cerita tersebut. Salah satunya dengan menghadirkan ragam visual dalam tabel, peta dan infografik soal kopi. Termasuk sejarah kopi bagaimana ditemukan dan persebarannya di seluruh dunia. Sebagai lanjutan operasi khusus sadap musang, dengan penuh tekad mengamalkan dasa darma pramuka serta melestarikan sila ketiga pancasila butir kegotongroyongan, kami bahu membahu merangkai pigura dari sisa kayu saat rekonstruksi ruang sayap selatan. Terdapat 22 pigura yang berhasil kami cetak guna melengkapi ruang belakang yang kami dedikasikan sebagai ruang baca. Harapan kami, kopilovers bisa mengunduh pengetahuan mengenai bean to cup, berikut asal muasal, cita rasa kopi yang terkandung, sampai pertumbuhan tingkat konsumsi selain dari percakapan yang mengalir melalui barista.
Karena kami sadar, saat jam ramai, perbincangan mengenai kopi harus terhenti oleh tumpukan pesanan yang harus lekas dikerjakan

Pada sayap Selatan, selama enam hari, kami segenap pasukan Dongeng Kopi menyusun, menyulap, dan mengeksekusi tempat yang semula mangkrak tidak digunakan. Berbekal kemampuan pas-pasan dari kami semua, kami macak menjadi peleton Batalyon Zeni Tempur yang memiliki tugas pokok menyelenggarakan kostruksi dan destruksi guna memperbesar daya gerak sendiri. Menyusun tembok, memasah kayu, mengecat, ndandakne wesi biar jadi planggrangan kayu, ngamplasi kursi dayoh yang kami buru hingga Tepus, juga mencari kayu bekas kunci kontainer yang biasa bersemayam di pelabuhan. Semua dilakukan secara cepat, kilat dengan operasi khusus bersandi 'Sadap Musang'.
Semua itu dilakukan untuk kepentingan perluasan front, guna mengakomodir kepentingan publik agar massa penikmat kopi dapat meningkatkan aktivitasnya, mendidik dirinya sendiri dan menjadi kekuatan yang besar dan sadar melalui berbagai kelas-kelas yang digelar secara swadaya, maupun secara kolektif. Mengingat, selama ini beberapa ruang yang ada di Dongengkopi & Indiebook masih kurang kondusif kala lalu lalang gadis-gadis menawan mengalihkan perhatian para peserta kelas diskusi.

Selain beberapa hal diatas, juga masukan dari kopilovers yang ingin menggelar meeting terbatas yang kualitatif. Kami rasa, ruang ini juga cukup cocok untuk dipakai FGD teman-teman penggiat LSM, Organisasi mahasiswa, dan kelompok minat bakat menggelar 'meet up'. Setidaknya bulan ini akan diawali dengan Irwan Bajang bersama Indie Book Corner yang akan menggelar Independent School. Kelas menulis gratis yang berhasil menghantarkannya ke Kick Andy Show 

Dirgahayu kemerdekaan RI, Jayalah Indonesia, Jayalah Nusantara. Tujuh dekade berlalu semenjak proklamasi pertama kali dibacakan oleh dwi tunggal Sukarno-Hatta. Serta sembilan tahun sudah peringatan hari kopi nasional dirayakan semenjak tahun 2006. Dongengkopi & Indiebook menggelar blind test competition untuk para customer dan barista yang berhadiah uang tunai dan bingkisan menarik untuk merayakan dua hari penting tersebut. Selain itu, kami juga membagi single original tjoema-tjoema bagi setiap kopilovers yang jajan sampai dengan angka tujuh puluh ribu rupiah. Berlaku sampai dengan hari Rabu nanti.
Ayo Ngopi!
Ayo Kerja!