Rabu adalah hari para pecinta film bagi pelanggan DKJ. Setelah dua pekan berturut-turut kami menyajikan film tentang kopi, minggu ini kami akan menggelar film tentang buku. Setelah berdiskusi dengan kawan-kawan pelanggan Dongengkopi & Indiebook kami memilih salah satu film yang pernah direview oleh Mbak Diana AV Sasa yang berkisah mengenai klab buku dengan 6 orang yang sama-sama terpikat oleh karya pengarang feminis terkemuka abad 18, Jane Austen (1775-1817).
Lebih lanjut mengenai film ini, silahkan datang di Sinema DKJ Rabu ini 27/05. Sepertia biasa, film akan diputar mulai pukul 19.00 WIB s.d selesai
Seperti biasa, setiap Rabu ada agenda Sinema DKJ di Dongengkopi & Indiebook. Rabu ini kami memilih film mengenai sistem pertanian berkeadilan yang mengambil setting mengenai petani kopi kecil di Kolombia.
Dalam film ini juga mengungkap tentang industri kopi yang bernilai jutaan dolar, dengan tokoh dua roasters kopi yang memberi beberapa langkah kepada para petani dalam upaya untuk meningkatkan nilai jual kopi dengan harga yang wajar .
Silahkan merapat dipukul 19.00 WIB sampai selesai. Layar besar siap kami gelar.

Ruang tengah diantara batas ruang bebas rokok, ruang poster, dan meja komunal di Dongengkopi & Indiebook sebelumnya berisi karya dari TMT dengan seruan Ojo Lali Ngopi. Seiring pergantian catur wulan, seperti yang memang direncanakan, sebagai ruang yang senantiasa dinamis, berdialektika dengan pergerakan pelanggan Dongeng Kopi , kali ini yang tampil di ruang tengah adalah mural dari Patrick Diderik Riandi yang menyerukan agar para peminum kopi kritis menanyakan mengenai kopi yang disesap. Apakah kopi yang disruput benar-benar dibeli dengan harga layak, atau ada unsur exploitation de l’homme par l’homme?
catur wulan berikutnya kamu juga bisa mengisi ruang tengah kami lho...


Pagi tadi, Pak Rio salah satu petani Kopi dari Temanggung menunaikan janjinya untuk hadir di DKJ. Setelah agak lama kami berkomunikasi intens, ngobrolin soal penanganan pasca panen, bersama dengan Pak Lukman, akhirnya hari ini berkesempatan hadir di kedai kami. Membawa 9 jenis kopi dari kebun berbeda dan dengan proses berbeda. Kami meroastingnya sore ini. Sebelum nanti akan dicupping bersama-sama dengan segenap kawan dan pelanggan
Mulai Rabu pekan ini, di tiap minggunya kami menggelar nonton film pilihan yang disaring dari usulan kopilovers pelanggan setia dongeng kopi. Usulan nonton bersama juga merupakan realisasi atas usulan mereka yang rajin menyambangi kami setiap hari. Setelah kami pertimbangkan, memang cocok untuk menjadi agenda rutin. Maka Rabu ini, pukul 19.00 kami akan mulai agenda perdana dengan film "Black Gold". Sebuah film yang mengambil setting di Afrika, dimana 74.000 petani kopi berjuang dari kebangkrutan akibat nilai tukar yang rendah. Sementara di sisi lain orang-orang terus memesan latte dan cappucino tanpa berfikir apakah harga yang didapat atas kopi yang disesap adil bagi para petani penggarap. Ikuti cerita lengkap mengenai kekuatan besar pemain kopi multinasional, dan juga perjuangan keadilan harga dari petani kopi afrika.
Mari merapat kopilovers...
di tempat kami, garansi freshly roasted bukan sekadar 'abang abang lambe'. Merah di bibir begitu kalau menyitir dari pepatah jawa. Satu ungkapan yang biasa sangat melekat disandang para pedagang agar lekas laku jualannya. Bahasa kecap yang terus di gaungkan sebagai bumbu penyedap label kedainya acapkali menjadi blunder begitu berjumpa dengan konsumen kritis yang meminta model profiling roasting macam-macam. 
Barangkali masih banyak yang sangsi bila kopi kopi kami di sangrai secara mandiri. Karena kami jarang mengunggah gambar gambar kegiatan roasting. No picture = Hoax kalau bahasa agan2 di kaskus. Sebelumnya kami memang roasting dengan mesin kapasitas kecil. Merknya Gene Cafe. 





Pertumbuhan konsumsi kopi di kedai kami meningkat seiring naiknya popularitas Budi Gunawan yang hadir menjadi buah bibir di semua kalangan. Praktis kami cukup kewalahan apabila masih mengandalkan mesin yang lama. Berbekal sedikit keuntungan yang berhasil kami sisihkan, kami mendatangkan mesin yang mampu menjawab persoalan kuantitas sangrai. Mulai bulan ini kami juga siap untuk melayani penjualan roast bean aneka varietas melalui dokar; dongengkopiartisanroast.
Semoga kami bisa terus berbagi kopi fresh buat kopilovers. Salam olahraga


Semenjak pindah di daerah Gorongan, Condong Catur, Depok, Sleman, banyak hal yang terus kami lakukan guna pengembangan Dongeng Kopi agar lebih kental sruputannya. Mesin roasting yang lebih besar kami datangkan. Kami melayani penjualan alat-alat manual brewing, blusukan ke kebun-kebun kopi; menyambangi petani dan membeli green bean dengan harga yang layak, tetap mengasong bersama Kombi Kongo dan Kopaja, rutin menggelar ngaji kopi tiap Jemuah Kliwon, dan berkolaborasi dengan Indie Book Corner menghelat berbagai agenda literasi, buku, kopi dan seni. Walaupun belum semassif agenda KOMIK UPN yang membicarakan soal petani, setidaknya kami mencoba untuk terus konsisten menghadirkan berbagai wacana keberpihakan kepada petani, dan tidak melulu menjadikan barista sebagai subyek utama pembuat kopi enak. Tentunya peran petani di kebun juga tidak bisa dipisahkan atas kopi yang tersaji di meja pelanggan. Berangkat dari kenyataan bahwa khalayak banyak masih belum seluruhnya menikmati kopi kualitas terbaik, kami juga mencetuskan program ‪#‎MakeYourOwnCoffee‬. Sebuah realisasi dari kampanye kami untuk jargon ‪#‎StopKopiSobek‬ Setiap orang bisa bertandang pada pagi hingga tengah hari, bisa memilih kopi, dan menyeduhnya dengan berbagai alat yang disukai, bayarnya pun sesukanya. Kami tidak peduli bila kami dianggap merusak harga. Kami hanya ingin berbagi kepada semua, dan mengajak menyesap kopi kualitas terbaik, bukan kopi instant yang dominan berisi gula dan krimer.
Banyak yang sudah datang dan merasa senang dengan program ini. Mendapatkan pengetahuan soal meracik kopi dari barista kami. Ajeg hadir saban pagi dan mulai meninggalkan kopi sachet. Kami bahagia bisa berbagi kopi ke setiap orang. Berbagi kopi kualitas terbaik tanpa takut merugi. Kopi terbaik memang sudah seharusnya menjadi konsumsi kita. Buka hanya dinikmati oleh orang luar negri atau orang yang mampu saja.