Setiap Selasa, melalui tema espresso & tarot kami akan menyambutmu dengan riang gembira di Gorongan. Bila bicara soal espresso kamu bisa menjumpai Lukas, bicara tarot kamu bisa berbincang dengan Citra melalui kartu-kartunya. Berikut perkenalan Citra melalui pojok obrolan kartu yang ia namai Eli Corner yang kemarin dikirim melalui surel kepada mimin;







Di pojokan yang tenang dan hangat ini, kamu akan bertemu dengan saya, Citra - perempuan berambut sebahu yang selalu membawa kartu tarot dan oraclenya kemana - mana. Saya adalah seorang penikmat dan pengamat hidup yang selalu berkeinginan untuk menemukan dan merasakan cinta dimana - mana dengan cara apapun, salah satunya melalui media interpretasi kartu. 
Mendengar kata tarot, banyak orang akan langsung terbayang soal meramal nasib dan peruntungan. Jika ada pembicaraan yang menyinggung soal peran saya sebagai penerjemah kartu, berbagai tanggapanpun bermunculan. Mulai dari pertanyaan - pertanyaan penasaran, ketertarikan untuk dibacakan sampai komentar "Ih nggak mau diramal ah, serem" atau "masa depan gue nggak ditentukan sama kartu". *Dalam hati saya, "Siapa juga yang mau bacain lu"
Sebenernya, baca kartu itu bukan melulu soal meramal kok. Kalo di Eli Corner sendiri, kartu itu layaknya seorang teman yang asik untuk diajak ngobrol dan diskusi tentang berbagai hal. Teman yang mendengar suara hatimu yang terdalam, teman yang mengetahui bagaimana cara memperlakukanmu dengan baik. Untuk kebaikan dan perkembangan dirimu sendiri.
Bagaimanapun, kadang hasil obrolan di Eli Corner bisa mengarah ke hal - hal yang bersifat prediksi karena Ia memang cerdas dalam membaca pola kehidupan dari tiap individu yang dibacakan. Tapi hal itu bukanlah sesuatu yang mutlak karena hasil bacaan yang tersampaikan sangat dipengaruhi oleh energi dari si pembaca dan yang dibacakan pada saat itu.
Layaknya sebuah interaksi, sesi pembacaan kartu sangat dipengaruhi oleh rasa nyaman dan kepercayaan yang dibangun dari kedua pihak. Jangan terlalu berharap untuk mendapatkan suatu sesi yang menyenangkan jika kamu sendiri tidak ingin membuka diri. Di manapun, hubungan yang baik dilandasi oleh rasa percaya bukan?
Mau dibacain dong....
- Untuk newbie yang belum pernah tapi tertarik untuk dibacakan kartu, yakinlah pada perasaan tertarikmu. Itu adalah intuisimu yang mengarahkanmu untuk menjelajahi gambar - gambar di kartu saya. Layaknya anak kecil, beranilah untuk masuk dan caritau. Buang jauh - jauh pemikiran yang mengatakan "tapi takut". Kalo takut, silakan berikan kesempatan untuk orang lain yang memang berani untuk selalu mencoba. 
- Untuk yang sudah pernah mencoba sesi tarot dengan pembaca lain, buang juga standarisasi dalam interpretasi. Tiap pembaca mempunyai pemahaman yang berbeda tentang kehidupan. Hormati perspektif tiap individu layaknya perspektifmu ingin dihormati.
- Buka pikiran dan percaya bahwa apa yang akan didengarkan adalah pesan yang memang ingin disampaikan oleh Semesta untukmu :)
Jika tertarik untuk mojok bareng saya, yuk dateng ke Dongeng Kopi, setiap hari Selasa jam 7 malam.
Warmest Regards,
Citra Kirana
0878 8111 0877


Sesi cupping adalah sesi yang paling sering kami lakukan di DKJ, begitu kopi datang dan selesai panggang. Kami biasanya melakukan secara tentatif dan tidak terjadwal. Pokoknya kalau kopi baru tiba dari kebun, selesai sangrai lantas jejer gelas, pecah biji menjadi bubuk, lalu tuang air panas. Para barista menyesap, beberapa pelanggan terlibat. Saling mencatat, saling berkomentar dan diskusi tentang kopi dengan indikasi geografis tertentu, tentang rasa yang ditangkap, aroma yang dirasa, dan saling memberi skor, selesai. Baca: (Cupping Ketika Lidah Mendata Rasa)http://dongengkopi.blogspot.co.id/…/cupping-ketika-lidah-me…
April ini, kami berkeinginan untuk mengajak segenap pelanggan lebih dalam menyelami kopi melalui sesi cecap kopi sama-sama yang kami namakan CAPING (coba cupping). Rencananya, agenda ini kami rutinkan tiap Rabu, dimana barista kami akan menyambangi meja yang anda tempati bersama segenap teman-teman anda, mengajak untuk mencicip kopi, hingga memberi skor serta memberikan catatan kecil atas beberapa kopi yang kami pilih secara acak.

Dua duanya tidak bisa dilepaskan dari kota Milan, satu kota penting di Italia. Tarot muncul lebih awal, di abad 15, sementara Espresso muncul lima abad setelahnya, yakni di awal abad 20, tepatnya pada tahun 1901. Bila tarot ada keluarga Visconti sebagai pencipta desain kartu tarot, maka espresso ada Luigi Bazzera sebagai tokoh pencipta mesin espresso.
Tarot sebelumnya dikenal dengan sebutan carde da trionfi, atau kartu kejayaan, sementara espresso dikenal sebagai kopi yang disajikan secara cepat, mengingat kebutuhan asupan kafein yang cukup tinggi setiap hari.

Bila kamu ingin melihat bagaimana tarot dimainkan, dan espresso disajikan, kamu bisa bertandang di Dongeng Kopi & Indie Book pada hari Selasa di tiap pekan setelah matari menepi, dan jingga berganti.


"Ya, musik, bagi saya sendiri dapat berfungsi sebagai pengendali mood. Orang yang sedang kesal, datang ke kafe, tiba-tiba diperdengarkan musik Grunge dari Nirvana dengan distorsi gitar overdrive, akan membuat si pengunjung menghabiskan kopinya segera dan bergegas pulang, mungkin mencari suasana lebih tenang. Dan orang hatinya sedang berbunga-bunga hatinya semakin “melambai” ketika mendengar musik yang pas di hati seraya menikmati Latte maupun Cappuccino." 
Lebih lanjut baca
Mari kawan, kita jumpa dirinya di Dongengkopi &Indiebook malam Minggu ini. 2 April 2016 pukul 19.00 WIB. Kita dengar penuturannya tentang puisi-puisi dan proses kepenyairannya. Nanti kita paksa dia baca puisi dan menghibur malam minggu kita. Kamu cukup datang aja, nggak usah bayar, nanti juga ada hadiah-hadiah asyik dari kami. Siapkan tepuk tangan dan senyum manis saja buat penyair kita ini.

Sampai jumpa!

Jika kopilovers sudah sangat akrab dan familiar dengan istilah-istilah seperti: 'acidity', 'bitter', 'floral', 'caramel', 'over ekstrak', 'baked', 'body', dlsb, saat membicarakan soal kopi dan sekian turunannya, misal soal istilah dalam cita rasa, istilah dalam teknik seduh, istilah dalam sangrai, beberapa istilah tadi, mungkin sudah sering didengar dan diucapkan. Tetapi diantara kopilovers pasti pernah satu waktu sebagian dari kita juga masih asing dengan beberapa istilah yang dilontarkan seseorang yang membicarakan hal tersebut.
Beberapa istilah tersebut dalam padan kata bahasa Indonesia memang masih belum 'pas' untuk diterjemahkan. Mungkin dalam beberapa waktu ke depan kawan-kawan Indie Book Corner bisa membantu untuk 'mengalih bahasakan' beberapa istilah tersebut yang 'pas' dalam bahasa kita.

Akhir bulan ini, kami mencoba menambahkan beberapa istilah-istilah yang sering digunakan dalam 'dunia kopi' di tutup stoples Dongeng Kopi. Beberapa istilah tersebut semoga menjadi tambahan perbendaharaan kata kita tentang istilah di bidang kopi.

Cupping adalah sebuah kegiatan menyicip kopi yang sering dilakukan di Dongengkopi & Indiebook setiap minggu. Beberapa kopi yang datang dari para petani begitu selesai diroasting oleh bung Alang Bhinantaka biasanya langsung dicupping bersama-sama gerilyawan Dongeng Kopi dan kopilovers yang kebetulan bertandang saat kita menggelar sesi tersebut.
Pada kelas Barista yang biasa kami helat, cupping menjadi materi awal sebelum masuk ke dalam teknik brewing agar peserta belajar untuk mempersepsikan rasa, yang nantinya digunakan sebagai parameter keberhasilan seduhan yang diharapkan.
Mengapa cupping menjadi penting? karena cupping berfungsi untuk mengetahui perbedaan berbagai hasil seduhan kopi berdasarkan jenis, tingkat sangraian biji kopi, dan perbedaan profil rasa khas. Tujuan utama dari cupping adalah untuk mengetahui cacat produk atau profil rasa negatif dari kopi.
Dalam proses cupping, tidak semua dari kita mampu mendekripsikan rasa secara kompleks. Pengalaman atas mencicip dari berbagai rasa, serta kemampuan memanggil ingatan atas rasa yang ada di memori otak, memiliki peran vital dalam mendiskripsikan rasa yang terkandung dalam kopi yang 'dicupping'. Meminjam istilah dari Pak Yusianto Yusi, deskripsi itu akan muncul melalui 'perpustakaan rasa'yang dimiliki masing-masing orang.
Saat proses cupping, peran lidah sebagai indera penyecap, bertugas untuk mendeskripsikan rasa yang didapat.
Para peneliti melalui beberapa riset yang mendalam selama bertahun-tahun mengenai peta lidah dan persepsi rasa, berhasil menemukan sebuah bukti bahwa beberapa orang memiliki kepekaan yang kompleks dibandingkan dengan yang lainnya. Kepekaan ini berkaitan dengan sebaran papila yang berbeda.
Lalu apa itu papila? Papila adalah bagian permukaan yang kasar dari lidah berupa tonjolan-tonjolan. Ia mempunyai fungsi mutlak atas persepsi rasa.
Secara keseluruhan di lidah, terdapat tiga jenis papila yang ada struktur lidah diantaranya:
Papila filiformis (fili=benang); berbentuk seperti benang halus yang terletak di sisi lidah; Papila sirkumvalata (sirkum=bulat) yang terletak di belakang lidah; berbentuk bulat, tersusun seperti huruf V; serta papila fungiformis (fungi=jamur); berbentuk seperti jamur di pangkal ujung lidah.
Intensitas persepsi rasa yang dicecap oleh seseorang sangat tergantung pada kepadatan dan distribusi papila. Papila dari 'supertasters' biasanya erat terkonsentrasi dan terorganisir. Sebaliknya, 'nontasters' memiliki kepadatan pengecap rendah dan papila tidak terorganisir.
Di luar penelitian tersebut, sesungguhnya interaksi rasa yang intens juga mampu meningkatkan koleksi 'perpustakaan rasa'.
Oleh karenanya, penting untuk melatih lidah kita untuk menemukan peta dimana bagian sensitif dalam merasai rasa tertentu, dan mempelajari hubungan antara rangsangan yang berbeda.
Merujuk dari coffeeresearch.org. Memahami lidah kita relatif sederhana. Kita
disarankan memulainya dari 'merasai' gula, asam sitrat, garam, dan kina. Mulailah dengan daerah selain yang ditunjukkan pada peta lidah (gambar di bawah)
Misalnya, menentukan dimana bagian lidah kita dapat merasakan larutan gula selain ujung lidah. Ujung lidah akan menjadi wilayah yang paling sensitif, tapi kita mungkin dapat menemukan 'rasa' gula di tempat lain. Berikutnya, percobaan dengan berbagai konsentrasi dan membandingkan apa yang dirasa orang lain. Hal ini penting untuk memperoleh pemahaman tentang kemampuan persepsi kita akan 'rasa' yang kita tangkap.
Setelah gula, kemudian berturut-turut kita mencoba asam sitrat, garam, dan kina, kemudian mengkombinasikan secara bersama-sama antara gula dengan asam sitrat, asam sitrat dengan garam, garam dengan kina, dari satu elemen, hingga ke empat elemen dan memetakan dimana bagian lidah kita bisa merasakan secara terang akan rasa tersebut.

Latihan ini menjadi penting untuk merubah persepsi kita bahwa kemampuan merasakan secara komprehensif bukanlah melulu faktor genetik.